Monday, July 13, 2009

Keuangan defisit setiap bulan

Tanya :
Sebagai pegawai dari sebuah perusahaan swasta, saya mendapatkan gaji setiap bulan. Tetapi sampai sekarang keuangan saya selalu defisit setiap bulan. Apa yang bisa saya lakukan?
Rachmat H., Surabaya

Jawab :
Anda tampaknya sudah menyadari terjadinya ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran yang terjadi pada keuangan anda.

Prinsip dari suatu arus kas yang baik adalah bahwa pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran. Kalau yang terjadi adalah sebaliknya, maka arus kas tersebut defisit, yakni “lebih besar pasak daripada tiang”.

Biaya yang anda keluarkan, pada umumnya bersifat rutin. Ada dana yang dikeluarkan setiap bulan, ada yang setiap tiga bulan, ada yang setiap semester dan ada pula yang setiap tahun.

Contoh dari biaya yang dikeluarkan setiap bulan adalah belanja setiap bulan, biaya sekolah anak-anak, pembayaran listrik dan telpon, iuran keamanan dan sampah, dan lainnya.

Sedangkan biaya yang dikeluarkan tidak setiap bulan, misalnya pajak mobil yang dibayar setiap tahun, pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan yang setiap tahun, pembayaran asuransi jiwa yang setiap semester, dan berbagai kebutuhan tahun ajaran baru untuk anak setiap awal tahun ajaran.

Tetapi walaupun punya kebutuhan rutin yang sifatnya tiga bulanan, atau enam bulanan atau tahunan, umumnya pemasukan kita bersifat rutin bulanan, yakni gaji. Karena itu setiap kali memperoleh gaji bulanan, kita harus mencadangkan atau menyisihkan sebagian dari gaji itu untuk kebutuhan yang tiga bulanan, enam bulanan atau tahunan seperti tersebut di atas. Dengan kata lain kita harus menabung untuk kebutuhan yang pasti akan muncul kemudian. Kalau kita tidak membuat pencadangan, bisa dipastikan kita akan sering mengalami defisit.

Setelah mengetahui prinsip – prinsip di atas, yang harus anda lakukan adalah catatlah setiap pengeluaran yang anda lakukan. Jika anda secara tertib melakukannya, maka anda dapat mengevaluasi pengeluaran mana saja yang tidak perlu dilakukan.

Ada satu prinsip lagi yang harus anda pegang, menabunglah sebelum pengeluaran dilakukan.

Selamat merapikan keuangan anda.

Monday, May 25, 2009

Membeli Mobil Untuk Usaha

Tanya :
Sebagai seorang karyawan yang memiliki gaji tetap, ada desakan dari keluarga untuk memiliki sebuah mobil. Selama ini kami memiliki sejumlah tabungan yang bisa dipakai untuk membayar uang muka, dan ada sedikit dari penghasilan saya yang bisa dipakai untuk mencicil angsuran mobil tersebut. Apakah ada saran bagaimana baiknya pembelian mobil tersebut.
Suwaji, Surabaya

Jawab :
Terima kasih anda cukup berhati-hati dalam memutuskan sesuatu yang cukup besar, sehingga anda perlu untuk menanyakannya kepada kami.

Pertanyaan pertama adalah apakah kebutuhan memiliki mobil tersebut sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak?

Jika jawaban pertanyaan pertama adalah ya, berapa besar “ruang” dari penghasilan anda yang bisa dipakai untuk mencicil angsuran kredit mobil tadi?

Jika memang 100% dari “ruang” tadi, anda pakai semua untuk mencicil angsuran, berarti anda harus memikirkan sekali lagi pembelian mobil tadi. Karena ada biaya perawatan yang akan menjadi beban setelah memiliki mobil tersebut, misalnya : penggantian oli, servis ringan setiap bulan, biaya parkir, biaya tol. Atau biaya lain yang tidak anda bayangkan, misalnya dengan memiliki mobil maka anda dan keluarga sering piknik bersama ke tempat-tempat wisata. Juga ada pembayaran pajak yang anda harus tanggung setiap tahunnya.

Jika anda juga merencanakan sebuah usaha dengan memiliki mobil tadi, maka anda mengharapkan adanya penghasilan tambahan yang dapat anda peroleh dengan memiliki mobil tersebut. Artinya mobil yang dibeli tidak hanya menjadi asset konsumtif, tetapi juga menjadi asset produktif yang menghasilkan uang.

Baik sekali jika anda merencanakan untuk mencicil angsuran kredit dan biaya perawatannya dari hasil usaha sampingan tadi. Sehingga anda mempunyai target dalam menjalankan usaha tersebut.

Pada saat jangka waktu kredit selesai, anda telah memiliki asset produktif yang bisa menghasilkan uang. Pada masa mencicil, anda sepertinya sedang membangun bisnis dengan membeli asset produktif. Setelah masa mencicil selesai, maka hasil usaha tadi bisa anda pakai untuk membesarkan usaha, atau istilah kerennya mengadakan ekspansi, dan sebagian kecil bisa dipakai untuk meningkatkan kesejahteraaan keluarga anda.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, besenang-senang kemudian.

Monday, March 30, 2009

Beberapa kondisi akibat Pensiun

1. Berkurangnya penghasilan
2. Rentan konflik
3. Pendidikan anak menjadi terbengkalai
4. Perpecahan keluarga

Selengkapnya ada di buku "PHK dan Pensiun Dini, Siapa Takut?" karangan Joannes Widjajanto.
Dan silakan kunjungi Gramedia atau toko buku terdekat...