Sunday, December 30, 2007

Persiapan Pernikahan Dengan Dana Terbatas

Pengasuh rubrik yang terhormat, beberapa bulan ke depan kami akan melangsungkan pernikahan di Surabaya. Tetapi sampai saat ini, kami masih bingung mempersiapkan dana untuk “pesta” yang ingin kami buat meriah yang akan diselenggarakan tersebut.
Mohon saran bagaimana mempersiapkan dana untuk pernikahan kami.
Dedi & Yeni – Surabaya

Jawaban:

Mas Dedi & mbak Yeni, selamat atas komitmen yang sudah dibuat untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan. Senang sekali mendengar anda berdua telah merencanakan pernikahan yang “pesta”nya ingin anda berdua rayakan secara meriah.

Banyak pasangan yang memiliki kendala dalam persiapan pernikahannya adalah dana untuk pesta. Sebenarnya apakah arti dari sebuah “pesta pernikahan”? Ada referensi yang menyatakan bahwa sebuah pernikahan haruslah diumumkan kepada masyarakat, seperti Indonesia saat memproklamasikan kemerdekaannya kepada negara-negara di seluruh dunia. Hal yang lazim adalah mengumumkan “pernikahan” melalui pesta yang diselenggarakan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah ada cara lain yang bisa dilakukan sebagai “media” untuk pengumuman ini?

Sumber pendanaan bisa berasal dari orangtua kedua calon mempelai, bisa juga hanya berasal kedua calon mempelai. Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab di bawah ini berkenaan dengan pendanaan.

  • Berapa besar dana yang dialokasikan untuk pernikahan ini, mulai dari lamaran, seserahan, malam midodareni, akad / pemberkatan nikah, acara adat, pesta pernikahan, bulan madu.
  • Apa saja yang dicover oleh dana ini.

Dengan menjawab kedua pertanyaan di atas, kita dapat melanjutkan kepada pertanyaan di bawah ini.

  • Berapa banyak tamu yang akan diundang.
  • Apakah semua saudara, kerabat, teman perlu semuanya diundang.

Apakah memungkinkan untuk memilah mana yang perlu diundang, mana yang cukup diberitahu saja.

Dengan dana terbatas kita dapat lebih kreatif merencanakan pernikahan kita dengan perayaan semeriah mungkin tetapi dengan dana yang seminim mungkin. Menarik bukan?

Anda tidak disarankan untuk menghabiskan semua uang / harta yang anda miliki untuk pesta yang hanya akan berlangsung sehari atau malah semalam saja. Karena kebutuhan setelah pesta pernikahan memerlukan dana yang tidak sedikit. Katakan biaya untuk sewa rumah. Apalagi setelah memiliki anak, maka biaya rumah tangga akan membengkak cukup drastis, mulai dari kebutuhan membeli susu, biaya ke dokter, biaya sekolah dan lain sebagainya.

Selamat merencanakan.

Wednesday, December 26, 2007

Mengapa premi asuransi hangus?

Istilah premi hangus banyak ditemui di industri asuransi, khususnya asuransi jiwa. Karena apa? Banyak orang merasa bahwa premi yang dibayarkan tidak kelihatan manfaatnya. Pada awal tahun polis, pemegang polis membayar uang premi, tetapi pada tahun berjalan tertanggung tidak mengalami risiko yang dipertanggungkan dalam polis. Sehingga premi yang dibayarkan “seolah-olah” hangus.

Sekarang mari kita coba lihat pengertian premi hangus ini dari beberapa segi.

Manfaat vs Premi
Kalau kita bicara premi, maka kita juga harus bicara tentang manfaat yang dibayarkan saat tertanggung mengalami risiko yang dipertanggungkan. Misalnya risiko yang dipertanggungkan dalam polis adalah risiko meninggal dunia. Maka manfaat diberikan saat tertanggung meninggal dunia dalam periode kontrak. Bagaimana kalau tertanggung hidup di akhir kontrak? Ada polis yang memberikan manfaat saat tertanggung tetap hidup sampai akhir kontrak. Ada pula yang tidak memberikan apa-apa, ini yang biasa disebut orang sebagai polis yang memiliki karakteristik “premi hangus”.

Polis jenis pertama dalam dunia asuransi jiwa disebut sebagai produk endowment. Contohnya adalah asuransi endowment yang diperuntukkan untuk keperluan beasiswa sekolah.

Sedangkan polis jenis kedua adalah produk term life insurance.

Kita bisa melihat jelas perbedaannya pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Produk asuransi jiwa
Endowment Insurance
- Meninggal dunia di tengah masa kontrak : Uang Pertanggungan dibayarkan
- Hidup di akhir masa kontrak : Uang Pertanggungan dibayarkan
Term Life Insurance
- Meninggal dunia di tengah masa kontrak : Uang Pertanggungan dibayarkan
- Hidup di akhir masa kontrak : Tidak ada pembayaran

Polis jenis term life insurance ini dijual berbagai bentuk. Ada yang yang bermasa kontrak 1 tahun dan kemudian dapat diperbaharui, disebut sebagai Yearly Renewable Term (YRT). Sehingga premi akan naik setiap tahun mengikuti usia yang menaik.

Ada yang bermasa 5 tahun atau lebih dengan premi tetap selama periode kontrak, demikian pula uang pertanggungannya. Produk ini disebut sebagai Level Term.

Ada pula produk yang umumnya digabungkan atau dipersyaratkan saat kita mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Produk jenis ini memberikan manfaat yang menurun setiap bulannya (sesuai dengan cicilan pokok), sedangkan premi dibayarkan dalam periode tertentu sesuai kontraknya atau sekaligus di awal kontrak.

Secara detil jenis produk term life insurance dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Produk Term Life Insurance
YRT
Masa Kontrak : 1 tahun & dapat diperbaharui
Manfaat : Tetap selama masa kontrak
Premi : Menaik setiap tahun
Level Term
Masa Kontrak : 5 tahun atau lebih
Manfaat : Tetap selama masa kontrak
Premi : Tetap selama masa kontrak
Decreasing Term
Masa Kontrak : 5 tahun atau lebih (umumnya sesuai jangka waktu KPR)
Manfaat : Menurun selama masa kontrak
Premi : Tetap selama masa kontrak atau dibayarkan sekaligus di awal kontrak

Premi Hangus
Setelah kita mengerti dua jenis produk asuransi jiwa, pertanyaan yang sering muncul adalah ngapain kita beli produk yang preminya hangus ?.

Mungkin akan lebih baik jika kita lihat komposisi kedua produk tersebut di atas. Produk term life insurance hanya memiliki komposisi pertanggungan risiko saja, sedangkan produk endowment berisi pertanggungan risiko ditambah tabungan (saving). Ini berpengaruh terhadap premi yang harus dibayar. Pertanggungan yang berunsur risiko saja, memiliki premi yang relatif rendah. Sedangkan pertanggungan yang berunsur risiko dan tabungan, premi yang harus dibayar jauh lebih tinggi.

Mana yang dipilih? Itu sangat tergantung dengan kebutuhan kita. Apakah kita hanya memerlukan proteksi terhadap risiko saja, ataukah sekaligus ingin menabung.

Beberapa orang yang sempat ditemui, hanya ingin memerlukan proteksi terhadap risiko saja. Karena mereka sudah menabung atau berinvestasi di tempat lain. Sehingga dipilihlah term life insurance.

Sedangkan yang lainnya, ingin proteksi dan menabung. Dengan membeli asuransi yang memiliki kedua unsur tersebut, maka mereka akan dengan “terpaksa” untuk menabung. Jika mereka tidak tertib, maka perusahaan asuransi akan memberikan semacam “penalti”.

Selain produk term life insurance, beberapa produk lainnya juga memiliki karakteristik “premi hangus”. Misalnya asuransi kecelakaan pribadi, asuransi kesehatan. Di dunia asuransi umum, hampir semua memiliki karakteristik ini, misalnya asuransi kebakaran, asuransi kendaraan bermotor, asuransi perkapalan, dan lain sebagainya.

Semua orang pastilah memiliki kebutuhan yang unik, sehingga produk asuransi yang dibelipun menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Janganlah menganggap bahwa “premi hangus” yang dibayarkan benar-benar “hangus”. Karena premi tersebut dipakai untuk menjaga kerugian finansial kita, akibat risiko yang ada terjadi.

Selamat memilih.

Monday, December 24, 2007

Memahami Perencanaan Keuangan Secara Sederhana

Perencanaan Keuangan Untuk Siapa?
Banyak orang yang punya pemikiran bahwa perencanaan keuangan adalah milik orang-orang kaya atau yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas bahkan tingkat paling atas. Jika kita pertanyakan, apakah kita yang berada pada golongan menengah atau bawah memerlukan sebuah perencanaan keuangan? Jika jawabannya tidak, maka tulisan ini akan berhenti di sini saja.

Sebuah pengalaman dari seorang teman perencana keuangan, bahkan golongan ekonomi paling bawahpun sangat berkepentingan pada perencanaan keuangan ini. Dengan pendapatan sedikit di atas UMR, seorang buruh sangat kesulitan untuk mengatur keuangannya. Dengan dua orang tanggungan, yaitu istri dan seorang anaknya, dia sangat bingung untuk mengatur agar pengeluarannya lebih kecil daripada pendapatannya. Tetapi dengan bantuan seorang perencana keuangan, dia sekarang terbebas dari kesulitannya itu. Apa yang dilakukannya?

Pada awalnya dia mencatat semua pengeluarannya pada bulan bersangkutan, dan pada akhir bulan dia melihat bahwa beberapa pengeluaran yang dia lakukan sebenarnya tidak perlu. Pada bulan berikutnya besar nominal pengeluaran yang tidak diperlukan tersebut ditabungnya dan dialokasikan untuk keperluan keluarganya di masa depan. Dan sekarang dia terbebas dari masalahnya itu.

Cerita di atas mungkin sederhana, tetapi tidaklah sesederhana yang kita bayangkan jika kita mengalaminya sendiri. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam sebuah perencanaan keuangan? Mari kita kupas satu persatu.

Pendapatan
Dalam kehidupan finansial kita, pasti ada yang namanya pendapatan. Apakah kita tahu berapa besar pendapatan kita setiap bulannya. Yang paling mudah diidentifikasi adalah gaji yang kita terima setiap bulannya. Juga gaji yang diterima istri, jika dia juga bekerja. Apakah anda mempunyai tabungan? Jika ya, apakah anda pernah memperhatikan bahwa setiap bulannya kita mendapatkan bunga dari uang yang kita tabung. Pendapatan bunga ini meskipun kecil, dapat kita kategorikan sebagai salah pendapatan kita setiap bulan. Bayangkan jika kita mempunyai “mesin uang” yang menghasilkan tingkat pendapatan sebesar 10% setiap bulannya, maka pendapatan tersebut cukup signifikan terhadap total pendapatan yang kita terima.

Pengeluaran
Bagaimana dengan pengeluaran yang kita lakukan? Apakah anda pernah mempunyai catatan tentang pengeluaran yang kita lakukan setiap bulannya? Sebagian besar orang tidak memiliki catatan ini, karena pengeluaran bulanan kita begitu banyaknya dan diantaranya memiliki nominal kecil. Misalnya anda mengeluarkan sekeping uang logam bernilai Rp. 100 untuk diberikan ke “pak ogah” di perempatan jalan. Biasanya nominal yang kecil ini tidak tercatat dalam “buku” kita, karena nominalnya kecil dan jumlahnya cukup banyak.

Pada dasarnya pengeluaran kita dapat dikategorikan menjadi pengeluaran bulanan dan pengeluaran non bulanan. Pengeluaran bulanan misalnya : pembayaran listrik, air minum, iuran kebersihan sampai ongkos transportasi kita ke kantor. Sedangkan pengeluaran non bulanan adalah pengeluaran yang harus kita lakukan setiap tiga bulan atau setiap tahun sekali. Misalnya pembayaran premi asuransi yang setiap tiga bulan, pembayaran pajak bumi dan bangunan yang setiap tahun, pembayaran STNK kendaraan bermotor kita yang juga setiap tahun, dan lain sebagainya. Dua kategori di atas adalah pengeluaran rutin, ada pula yang disebut sebagai pengeluaran non rutin. Misalnya pengeluaran yang harus kita lakukan karena rumah kita bocor, sehingga diperlukan perbaikan seperlunya, atau pengeluaran saat kita membeli mobil atau rumah. Istilah di instansi pemerintahan, ada biaya rutin dan biaya pembangunan. Biaya rutin seperti contoh kita tadi adalah biaya rutin kita setiap bulan atau setiap tahun sekali. Sedangkan biaya pembangunan seperti biaya pembelian mobil dan rumah. Setelah mobil atau rumah dibeli, maka biaya perawatannya masuk ke biaya rutin.

Perbandingan Pendapatan dan Pengeluaran
Sekarang kita bandingkan antara pendapatan yang kita terima dan pengeluaran yang kita lakukan. Apakah seimbang, lebih besar pengeluaran, atau lebih besar pendapatan? Kondisi terakhir adalah yang kita harapkan bersama. Tetapi banyak orang dimana pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan yang dia terima. Apa yang kita harus lakukan untuk kondisi ini? Seperti contoh buruh di atas yang melakukan “pelacakan” terhadap pengeluarannya, maka kita juga dapat melakukan kegiatan tersebut. Hasil dari kegiatan “pelacakan” ini adalah potret pengeluaran yang kita lakukan dalam periode tertentu. Ada pengeluaran yang harus dilakukan, ada yang bisa tidak dilakukan dan ada yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Kategori terakhir bisa kita coret dari daftar pengeluaran kita pada periode berikutnya dan nominal dari pengeluaran tersebut bisa langsung kita tabung atau kita investasikan setelah kita menerima gaji bulanan.

Tujuan Keuangan Kita
Setelah kita “memotret” kondisi keuangan kita, maka kita telah mengetahui kelebihan maupun kekurangan kita dalam mengelola keuangan sebelumnya. Tahap selanjutnya adalah menentukan secara spesifik tujuan keuangan kita di masa depan. Setiap orang pastilah mempunyai tujuan hidup, tetapi jarang yang secara spesifik dan terukur apa yang ingin dia lakukan dalam jangka waktu tertentu. Seorang teman yang berhasil mengembangkan bisnisnya menyarankan bahwa tujuan hidup kita harus jelas, terukur kapan waktu pencapaiannya dan tertulis. Bahkan dia menyarankan agar setiap orang memiliki “dream book”, tempat kita menulis setiap tujuan hidup kita.

Setiap orang pastilah ingin hidup sejahtera, tetapi setiap orang mempunyai ukuran “kesejahteraan” yang berbeda. Contoh tujuan yang spesifik dan terukur adalah menyekolahkan anak sampai tingkat S1 di sebuah perguran tinggi di Indonesia selama 10 tahun mendatang. Tujuan ini spesifik, bisa diukur berapa besar biayanya dan jangka waktu pencapaiannya. Dengan tujuan yang cukup jelas ini, kita akan dapat mengukur berapa besar dana harus disisihkan setiap bulannya mulai saat ini untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Tugas kita pada tahap ini adalah menentukan tujuan-tujuan keuangan kita di masa mendatang, mulai dari mempersiapkan pendidikan anak, mempersiapkan masa pensiun sampai mempersiapkan biaya pemakaman saat kita meninggal nanti. Dan kemudian menghitung besar dana yang harus disisihkan agar tujuan tersebut bisa dicapai.

Banyak “kendaraan” bisa kita pakai untuk mencapai tujuan ini, mulai dari menabung, berasuransi, dan berinvestasi. Berinvestasipun banyak sekali caranya, mulai dari saham, obligasi, reksadana, sampai berinvestasi di bidang properti atau menanam modal langsung ke dunia bisnis.

Banyak jalan menuju Roma, bisa lewat darat, laut maupun udara. Semua pilihan ada di tangan kita, dan pasti kita memilih yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan pengalaman kita.
Selamat berjuang.